Pit Jepang, Sepeda Kebanggaan Warga Pekalongan - Pekalonganisme

18 April 2014

Pit Jepang, Sepeda Kebanggaan Warga Pekalongan

PEKALONGAN, Pekalonganisme.com - Pit Jepang, begitulah warga menyebutnya untuk sebuah sepeda yang sangat dibanggakan di kota ini. Sebelum maraknya istilah bike to work atau bike to school yang menggandrungi kebiasaan masyarakat dalam mengurangi efek polusi udara dan kemacetan, warga Pekalongan sudah terlebih dulu menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk menuju tempat kerja. Tidak terbatas pada kaloangan dewasa saja, Pit Jepang yang memiliki kerangka seperti Sepeda Jengki telah mempengaruhi pola bersepeda anak-anak sejak masih SMP atau bahkan SD sebagai kendaraan berangkat sekolah.

Pit yang diadopsi dari Bahasa Belanda dari kata "fiets" yang mempunyai makna sepeda (sepeda pancal) sedangkan Jepang merupakan asal negara pembuat sepeda ini telah mengalami perjalanan panjang sebelum ahirnya menjadi sepeda kebanggaan masyarakat Pekalongan. Dengan niatan sebagai oleh-oleh kepada sanak keluarga maupun untuk dipakai sendiri, tahun 1980-an, pedagang batik dari Pekalongan yang pergi menjajakan dagangannya di Jakarta pulang membawa sepeda bekas yang dibelinya dari Tanjung Priok. Ya, memang Sepeda Jepang ini merupakan sepeda bekas dari Jepang yang di ekspor ke Indonesia karena sudah tidak terpakai di negaranya.

Meskipun bekas, namun kualitas sepeda ini memang tidak diragukan lagi mengingat Masyarakat Jepang memang mempunyai kebiasaan yang telah membudaya dalam menciptakan suatu produk dengan kualitas terbaik agar harga diri mereka terjaga dan tidak mempermalukan dirinya dengan kegagalannya. Alhasil sepeda yang dibawa pedagang batik menjadi terkenal akan kualitas dan ketahanannya dalam masyarakat sekitar sehingga tak jarang tetangga maupun sanak keluarga memesan untuk dibelikan sepeda bekas tersebut.

Ketenaran Pit Jepang lama-kelamaan menciptakan sebuah fanatik terhadap sepeda sehingga sepeda bekas ini sekarang memiliki harga jual yang tinggi. Tak hanya itu, masyarakat juga mepersepsikan Pit Jepang sebagai sebuah investasi karena memang harga jual sepeda ini stabil dibandingkan sepeda dalam negri maupun buatan Cina. Bahkan, untuk merek-merek tertentu, Pit Jepang dengan onderdil yang masih original dapat dijual dengan harga yang hampir menyentuh harga baru sepeda dalam negri. Bagi pengagum sepeda ini, originalitas menjadi suatu hal yang menjadi prioritas.

Loyalitas Warga Pekalongan bahkan telah teruji dengan datangnya "Pit Deral" yang berasal dari kata Federal yang merupakan merek sepeda gunung di tahun 1990-an awal kemudian sepeda BMX. Namun trend sepeda tersebut tidak bertahan lama sehingga masyarakat kembali memilih Pit Jepang sebagai pilihan sepeda andalan. Bahkan di tahun 2010 berkembang sepeda fixed gear yang lazim disebut sebagai sepeda fixie serta sepeda lipat tidak dapat menggeser dominasi Pit Jepang di hati masyarakat.

Nyaman, kuat dan fleksibel, barangkali tiga poin tersebut yang menjadikan sepeda ini membekas di hati warga. Desain kerangka sederhana, namun enak dipakai jarak dekat maupun jauh, boncengan juga bisa. Buku, tas, kitab bahkan belanjaan dapat dengan mudah diletakkan di keranjang depan. Dan yang lebih penting, kerangka sepeda ini tidak menghalangi kenyamanan bersepeda meskipun orang memakai sarung atau rok. Faktor kenyamanan inilah barangkali yang menjadi kunci bertahannya Pit Jepang dari persaingan dengan sepeda jenis lain, selain faktor ekuitas merek yang telah melekat dalam hati masyarakat. Di waktu sore setelah Ashar hingga malam, Warga Pekalongan memang masih mempertahankan kebiasaan memakai sarung dan rok atau longdress bagi kaum hawa dalam aktivitasnya sehingga mereka tidak mengalami masalah dengan pakaiannya meskipun dalam keadaan bersepeda.

Jangan Bangga Jadi Orang Pekalongan tapi Lupa Pekalongan. (aka)

Salam, Pekalonganisme.com