Tauto Pekalongan; Kesatuan Indah Dari Keberagaman - Pekalonganisme

13 April 2014

Tauto Pekalongan; Kesatuan Indah Dari Keberagaman

PEKALONGAN, Pekalonganisme.comTentunya orang Pekalongan sangat akrab dengan makanan yang satu ini, hampir di setiap jengkal wilayah Pekalongan, kita dapat menemukan warung ataupun pedagang keliling yang menjajakan soto yang berbeda dengan soto-soto dari kota lain di indonesia ini. Hampir semua lidah, baik dari kalangan elit maupun non-elite, baik etnis Jawa, Arab, maupun Cina yang tinggal di Pekalongan menerima dan suka dengan soto yang diramu dengan bumbu khasnya tauco goreng.


Biasanya di dalam sebuah warung Tauto, tak jarang kita menjumpai orang dari berbagai kalangan menyantap makanan ini dengan lahap sambil sesekali saling bersapa dan bercanda. Ya seakan tak ada sekat antara satu orang dengan yang lainnya, antara buruh dengan juragan, antara Jawa dengan Arab, antara Cina dengan Jawa dan sebagainya. Hanya dari suatu makanan, kita melihat sebuah keharmonisan antar-sesama.


Agaknya memang menarik, seperti sebuah obrolan tentang Tauto (Soto Pekalongan), yang diobrolkan penulis dengan seorang teman sekaligus guru, pada suatu malam yang dingin dan teringat Tauto Pekalongan. Mari kita sedikit menelisik dan mencari unsur-unsur “apa” yang ada di belakang Tauto (tauco soto) yang rasanya khas dengan kuah gurih agak encer berisi daging kerbau empuk, mie soun (mie putih yang lembut gemulai) yang ketika disantap saat soto masih panas dapat dipastikan membikin keringat segar mengucur penyantapnya.


Kita mulai dari Tauco yang menjadikan soto ini khas, bumbu tauco yang dikembangkan dan dipakai untuk bahan olahan makanan khususnya Tauto (tauco soto) sudah dalam bentuk digoreng. Banyak dari pengamat sejarah berpendapat bahwa tauco diperkenalkan dan dibawa ke nusantara oleh orang Tiongkok, dengan landasan hipotesa yang menyatakan bahwa budaya yang banyak mempengaruhi kuliner dunia diantaranya Tiongkok dan India. Sehingga banyak pula yang beranggapan bahwa tauto ini merupakan produk kuliner yang terpengaruh oleh India maupun Tiongkok. Sedang, Mie Soun (mie putih lembut gemulai), yang menjadi unsur wajib dalam soto, sangat dipastikan berasal dari Tiongkok, karena memang Tiongkok lah yang menemukan teknologi membuat mie.


Daging kerbau, yang menjadi isi wajib tauto Pekalongan, dalam benak saya muncul pertanyaan menelisik semacam ini, kenapa kok tidak daging Babi atau daging Sapi yang kebanyakan dipakai dalam makanan khas dari tiongkok? Justru daging kerbau yang dipakai untuk isi tauto? Saya kira ini bukanlah sebuah kebetulan. Jawaban yang muncul dalam benak saya kemudian, kalau tauto Pekalongan memakai daging babi yang biasa dipakai di Tiongkok, pastinya makanan ini tak bakal diminati oleh orang Islam yang menjadi mayoritas penduduk Pekalongan. Karena Babi dalam Syariat Islam, salah satu daging yang tidak boleh dimakan. Kalau begitu mengapa tidak memakai daging sapi, ini juga tidak dipilih. Saya  diingatkan oleh teman obrolan tauto malam itu; Karena sapi ialah salah satu simbol suci dalam agama hindu, jadi memakan daging sapi sama halnya dengan tidak menghormati kepercayaan agama hindu yang dulu dipeluk sebagian besar masyarakat Jawa. Sama seperti yang dilakukan oleh Sunan Kudus melarang masyarakat Kudus dan sekitarnya menyembelih Sapi untuk Qurban.


Sedang bumbu-bumbu yang melengkapi soto tersebut, mulai bawang putih, kemiri, merica, kapulaga, bawang goreng, dan lain-lain, bumbu-bumbu ini sangat condong  dengan unsur kuliner khas dari Arab. Masakan khas Arab biasanya sangat bercirikan dengan kelengkapan bumbu yang digunakan dan biasanya bercirikan gurih, pedas dan sebagainya. Lantas kita lebih condong berpikir bahwa berbagai macam unsur yang diramu dalam makanan khas Pekalongan (Tauto) ini, tidak hanya sebuah kebetulan semata, tidak hanya sekadar produk makanan yang dihasilkan dari akuluturasi dari berbagai entitas budaya, kalau ternyata unsur-unsur yang ada didalamnya seperti yang dijelaskan di atas. Akan tetapi tauto Pekalongan ialah sebuah manifestasi pemahaman bermasyarakat, bertoleransi, harmonisasi hubungan antar-manusia, antar-etnis golongan dan bahkan antar-agama. Hal tersebut ialah wujud dari pluralitas, insklusifitas dan cosmopolit-nya kebudayaan kita. Sebagai contoh Dalam hal ini, Tauto Pekalongan diramu dengan menyatukan unsur-unsur budaya yang berbeda seperti yang saya jelaskan diatas, kemudian dijadikan sebagai suatu makanan yang bisa dinikmati dan dihayati bersama, oleh lidah dan jiwa yang berbeda.


Kita berpikir bahwa Tauto bukan hanya sekadar makanan untuk memperkenyang perut, melainkan hasil Pola-pola yang dirancang oleh para pendahulu, para wali, para nenek moyang kita dalam mengajarkan ajaran dan memberi pemahaman kepada kita akan kebersamaan, toleransi dan saling menghormati. Nenek moyang kita memanifestasikan ajaran kedalam bentuk kesenian, kuliner, dan sebagainya sehingga ajaran tersebut mampu masuk dan dekat dalam relung kehidupan sehari-hari mayarakat, tidak hanya sekedar ungkapan teoritis maupun teks yang kaku dan sukar dipahami.(Mim)
Salam Tauto anget, salam jiwa tentram, salam kebersamaan, salam menulis.

Salam Pekalonganisme.