July 2014 - Pekalonganisme

02 July 2014

Perkataan yang Baik dan Pemberian Maaf

4:12 AM
Perkataan yang Baik dan Pemberian Maaf
Pak Haji Pekalongan
" قولٌ معروفٌ ومغفرةٌ خيرٌ مِن صدقةٍ يتبعها اذى..."
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari shadaqah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)…” (QS. Al Baqarah: 263)

Bulan Ramadhan telah tiba. Semua umat muslim berlomba-lomba melakukan kebaikan, meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadahnya, dan terus belajar meminimalisir perbuatan-perbuatan buruk yang terkadang masih sering dilakukannya pada bulan-bulan lain sebelumnya. Ramadhan kali ini, saya ikut meramaikan ibadah Tadarus yang sudah menjadi tradisi di lingkungan saya dan lingkungan-lingkungan lain pastinya, yang diadakan di masjid-masjid, di musala-musala, atau pula di rumah-rumah. Pada malam puasa Ramadhan pertama kemarin, saya menemui ayat ke-263 pada Surah Al Baqarah ketika sedang bertadarus Al Quran di musala dekat rumah saya. Kali ini, sedikit saya ingin menulis tentang sesuatu yang mungkin berkaitan dengan ayat tersebut.

Saya tinggal di rumah yang berada di RT 13 RW 05 sebuah desa di Kecamatan Buaran, Simbang Wetan. Di lingkungan saya ini, ketika bulan Ramadhan tiba hampir semua orang semakin sibuk. Bukan hanya semakin sibuk beribadah, melainkan juga semakin sibuk bekerja. Rupa-rupanya, puasa tak menghalangi orang-orang untuk tetap melakukan aktivitas pekerjaannya. Bahkan, pada bulan inilah orang-orang yang pada bulan-bulan lain tak pernah atau jarang kerja lembur maka sering lembur. Terutama bagi orang-orang yang pekerjaannya bisa dikerjakan di malam hari juga semisal ngecap, menjahit, atau bahkan nyablon batik pun ada yang lembur di malam hari (memang ada Batik Sablon yang penggunaan warnanya tidak membutuhkan panas matahari langsung). Bulan Ramadhan, melihat keadaan ini, bagi saya benar jika disebut sebagai bulan penuh keberkahan.

Seiring bertambah sibuknya orang-orang di bulan Ramadhan ini, seiring bertambah pula orang-orang yang “muncul” secara tiba-tiba di lingkungan saya. Mereka adalah orang yang meminta-minta. Orang-orang ini, entah bagaimana muasalnya, pada bulan Ramadhan, khususnya di akhir-akhir bulan menjelang Hari Raya, seakan “berkembang biak” dan perkembangannya cukup besar. Mereka di akhir-akhir hari puasa mulai bekerja door-to-door untuk meminta-minta. Mengemis. Dan bukan main, mereka mengingatkan orang yang dimintainya untuk berzakat dengan kalimat mereka “..Pak Kaji zakaté, Pak Kaji. Bu Kaji zakaté, Bu Kaji..” begitu kata-kata itu menjadi lagu-lagu mereka di sepanjang siang bahkan sampai malam. Mereka, peminta-minta itu bergerak dari rumah ke rumah lain, sendiri-sendiri atau berkelompok.

Tulisan saya ini tidak akan membahas mengenai orang-orang itu melainkan saya ingin sedikit menuliskan tenang hal yang perlu kita lakukan saat menghadapi peminta-minta itu. Mereka bagaimanapun di mata saya adalah juga manusia, mereka sama seperti saya, memiliki perasaan, membutuhkan uang untuk makan minum dan sebagainya. Saya dan orang-orang peminta-minta itu sama-sama manusia. Dan, di malam pertama di bulan Ramadhan ini saya menemui ayat Al Qur’an di atas. Saya teringat arti ayat itu yang dulu waktu saya sekolah MTs Simbang Kulon saya mendapati pelajaran yang menerangkan ayat tersebut. Saya, sebagai manusia, memiliki saat di mana saya memiliki apa yang bisa saya berikan kepada orang lain dan pula ada saat di mana saya tak memiliki apa pun untuk saya berikan kepada orang lain bahkan untuk keperluan saya sendiri. Melalui ayat itu saya diperingatkan jika saya sedang memiliki sesuatu yang bisa saya berikan kepada orang lain dan kebetulan bertemu dengan orang yang meminta-minta, maka saya berikan kepadanya. Dan jika dalam keadaan tak punya sesuatu untuk saya berikan kepada mereka orang yang meminta-minta itu, saya tak perlu mengucapkan kata-kata yang tak baik kepada mereka meskipun mereka bertindak kurang sopan terhadap saya. Karena ketika mereka bertindak kurang sopan, bukan berarti mereka tak beradab, tapi mereka sebenarnya ingin memohon maaf kepada saya melalui ketidaksopanan mereka.

Satu hal lagi yang saya ingat dari pelajaran waktu itu, bahwa memberikan sesuatu kepada orang yang meminta biasanya lebih baik dari pada memberikannya kepada orang yang tak memintanya. Karena, orang meminta itu karena mereka butuh, sedangkan sembarang orang yang tiba-tiba kita beri belum tentu sedang membutuhkan.
Demikian, semoga baik. Dan selamat beribadah kawan-kawan.
Salam.

Di tulis oleh saya, @EmCholed