August 2014 - Pekalonganisme

13 August 2014

Bulan Syawal, Hajatan, dan Wayangan

2:43 AM
Bulan Syawal, Hajatan, dan Wayangan
Penampilan wayang golek dalang Ki Wahyudin 
Pekalongan, Pekalonganisme.com - Dalam bulan-bulan tertentu  seperti bulan Syawal ini, akan banyak dijumpai berbagai hajatan yang diselenggarakan masing keluarga diberbagai daerah di Pekalongan. Biasanya yang umum dalam bulan Syawal ini Hajatan pernikahan dan Sunatan. Selain menyebut  dengan bulan lebaran maupun penuh kemenangan, seringkali masyarakat pekalongan menyebut bulan Syawal ini dengan bulan penuh Kondangan. Ya memang, setiap orang(keluarga) dalam bulan ini bisa dapat undangan hajatan dari tetangga, kerabat, dan kenalan lebih dari lima, tergantung masing-masing orangnya. Biasanya, yang bapak dapat undangan sinoman dan Ngambeng(walimahan), dan yang ibu dapat undangan Kiso sehari sebelum Ngambeng. Sedang yang muda, kalau hajatan pernikahan, akan diundang para pengantinnya untuk datang Sinoman dan resepsi pernikahannnya .
Hajatan baik walimatul ursy maupun khitan dan juga hajatan lainnya, bisa dikatakan sebagai wujud rasa syukur(tasyakuran) dari yang punya hajat. Disisi lain, fenomena tradisi kondangan yang mengiringi tasyakuran itu, ialah sebuah praktek sosial yang sarat akan muatan. Dalam kondangan tersebut, muncul sebuah rasa saling berbagi, saling tolong-menolong,  ikut bersuka cita, dan yang terpenting, praktek ini menjadi salah satu media penjaga hubungan antar sesama(silaturahim masyarakat).
Hal lain yang menarik dari dibulan syawal ini, biasanya juga sering ditemui pementasan wayang diberbagai daerah. Wayang ini dipentaskan bukan untuk memperingati moment-moment tertentu(misalnya sedekah bumi, agustusan, dan lainnya), melainkan pementasan wayang ini ada karena hajatan-hajatan tersebut diatas ada. Karena  biasanya keluarga-keluarga dengan tingkat ekonomi yang bagus, tidak jarang ketika empunya hajatan juga mengundang salah satu kelompok kesenian(baik wayang, qosidahan, bahkan dangdutan) baik lokal maupun luar untuk pentas. Selain sebagai wujud rasa syukur, kesenian ini juga dimaksudkan untuk memberi hiburan untuk para tamu undangan dan masyarakat sekitarnya.
Seperti pada jumat malam yang lalu, di desa Randujaya, Wonopringgo, dipentaskan wayang golek dalang Ki Wahyudin dari Batang dengan Lakon ‘Joko Bau(Babad Pekalongan)’ pada hajatan walimatul khitan warga setempat. Kebetulan tim pekalonganisme berkesempatan menonton pagelaran wayang tersebut. Penontonnya penuh sesak hingga rela berdiri ber jam-jam untuk menyaksikan pagelaran wayang tersebut. Dan yang menarik, penonton-penonton ini tidak hanya datang dari para tamu undangan maupun warga sekitar, melainkan banyak juga dari luar kecamatan yang datang, seperti karangayar, kedungwuni, buaran dan lainnya. Kami sempat berbincang dengan satu rombongan penonton dari buaran yang ternyata setiap malam setelah lebaran selalu menyaksikan pagelaran wayang golek Ki Wahyudin di beda-beda tempat. Ternyata hampir setiap malam dalam bulan syawal ini, Ki Wahyudin selalu diundang mementaskan wayang dalam berbagai hajatan di beberapa tempat di Pekalogan. Memang saat ini, Ki Wahyudin dalang yang cukup ternama untuk wilayah batang dan pekalongan.
Malam itu, lakon Joko Bau dibawakan apik oleh Ki wahyudin, penonton menyimak dengan serius setiap adegan demi adengan, sabetan demi sabetan tangan Ki dalang memainkan wayang-wayang golek nya yang diiringi tabuhan gamelan para wiyogo(pengrawit) dan diselingi tembang-tembang yang dibawakan tujuh sinden. Lakon Joko bau dalam pagelaran tersebut dimulai dari Joko Bau yang mendapat mandat dari Sultan Agung(Raja Mataram Islam) untuk babad Alas Gambiran yang sekarang menjadi wilayah pekalongan dan sedikit wilayah batang. Alas Gambiran rencananya akan dijadikan pemukiman sekaligus wilayah pertanian.
Alas Gambiran masa itu dikisahkan sangat angker dan ditunggui oleh banyak lelembut, hingga kemudian Joko Bau seringkali mendapat cibiran dari masyarakat kalau dia tidak akan berhasil membuka alas Gambiran. Termasuk cibiran itu datang dari pesaingnya Pangeran Purboyo yang ingin mendapatkan simpati dari Sultan Agung, lantas juga mencegah dan ingin menggagalkan misi Joko Bau, namun berkat kehebatan ilmu dan kekuatan kaluragan joko berhasil melaluinya. Kemudian ketika sedang menjalankan misinya membabad Alas Gambiran, Joko Bau diganggu oleh Kolo Sengoro dan prajuritnya, lelembut yang menunggui Alas Gambiran. Joko Bau sempat menerima kekalahan, namun lantas dia dibekali pusaka oleh ayahnya Ki Ageng Cempaluk berupa keris Suket Rumataji untuk melawan Kolo Sengoro, Joko Bau pun berhasil mengalahkannya. Tidak sampai disitu, setelah Joko sudah menebang semua pohon yang ada di Alas Gambiran, ada satu pohon Jati Sari yang tidak sanggup ditebang olehnya. Dia kebingungan, hingga kemudian dia meminta petunjuk pada ayahnya lagi, menurut ayahnya pohon Jati sari itu ditunggui oleh rajanya lelembut Jawa yaitu kyai Jenggot Sari. Untuk bisa mengalahkannya, Ki Ageng Cempaluk berwasiat pada Joko Bau bisa “loro sak jroning waras, mati sak jroning urip”, yaitu dengan bertapa kalong dibawah pohon Jati tersebut. Akhirnya setelah melakukan tapa kalong pohon itu bisa ditebang, dan kemudian tapa kalong nya Joko Bau itulah yang konon menjadi awal penamaan Pekalongan.
Lakon yang bersumber dari cerita lisan ini, memang tidak semuanya bisa serta merta diamini dari segi sejarah, sebab sejarah cikal bakal penamaan  Pekalongan masih jadi perdebatan para ahli sejarah sampai saat ini. Ada versi lain yang mengungkapkan nama Pekalongan itu berasal dari kata Phoe-Cha-Lung, diketahui berasal dari naskah tiongkok antara abad 12 sampai 13 M. Phoe-Cha-Lung merupakan sebutan dari orang-orang tiongkok masa itu untuk menyebut daerah tengah-tengah pulau Jawa(Chepo).  Adapula versi yang menyebutkan, Pekalongan berasal dari kata Along yg kemudian dapat tambahan Pe diawal dan An diakhir. Pek-Along-an, dalam bahasa jawa pesisir utara berarti mendapat tangkapan(ikan) banyak, memang dari dulu daerah ini dikenal pelabuhan ramai dan wilayah perairan lautnya menyimpan banyak ikan.
Terlepas dari kontroversi tersebut, pagelaran wayang (dalam hal ini, dipentaskan diberbagai hajatan) ialah kesenian rakyat yang hidup dan ditopang oleh masyarakat itu sendiri. Lakon-lakon wayang baik wayang kulit, golek, menak dan lainnya menjadi ingatan kolektif masyarakat Jawa yang berhasil menjadi tidak hanya sekedar tontonan ataupun cerita melainkan juga tuntunan berkehidupan(media pembelajaran). Seperti pagelaran wayang golek diatas, lewat tokoh joko bau dalang berusaha mengajarkan dan mengajak masyarakat untuk meneladani karakter Joko  yang ksatria, gigih, ulet, pantang menyerah, patuh dan punya sikap bertanggung jawab pada perintah pemimpin. Memang dalam akronim lain, da-lang ialah Ngudal Piwulang (membabarkan ajaran). Dalang Ki wahyudin pun menerangkan bahwa hujan ialah rahmat tuhan yang harus disyukuri, ketika pagelaran wayang nya sempat terhenti sebentar dikarenakan hujan lebat. 
Wayang, baik wayang kulit, golek, klitik, songsong, menak ialah ciptaan para Walisanga(Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat dan lainya) menjadi media dakwah dan pembelajaran untuk masyarakat islam jawa yang tak usang oleh waktu. Berabad-abad lamanya, wayang turut berkontribusi dalam memperkuat keislaman masyarakat Jawa.
 Wayang pun dipatenkan menjadi salah satu warisan kebudayaan dunia, yang harus dijaga eksistensinya. Lantas kemudian, jangan sampai menggelar pagelaran wayang untuk hanya sekedar klangenan dan menikmati kesenian eksotik, yang justru seakan-akan kita asing dan jauh darinya. Wayang harusnya tetap hidup disela-sela kehidupan masyarakat sebagai kesenian rakyat, seperti misalanya dalam hajatan diatas, sebagai hiburan sekaligus media pembelajaran yang sarat akan tuntunan dan pedoman berkehidupan. Wayang hidup dan ditopang oleh masyarakat itu sendiri, justru karena memang masyarakat membutuhkannya. Muhammad Yanto (fb Yanto Plus)